fbpx
Daerah  

Gedung Tri Dharma Widya, Mantan Markas Lekra: Kisah Perubahan dan Fungsinya yang Baru

Avatar Of Redaksi
Gedung Tri Dharma Widya, Mantan Markas Lekra: Kisah Perubahan Dan Fungsinya Yang Baru

Gedung bekas Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) telah mengalami perubahan signifikan sejak dulu menjadi tempat bersejarah hingga saat ini. Inilah kisah tentang bagaimana gedung ini telah mengalami transformasi dan mendapatkan fungsinya yang baru.

Sebuah Markas Bersejarah markas Lekra

Lekra, atau Lembaga Kebudayaan Rakyat, merupakan sebuah organisasi kebudayaan yang didirikan pada tanggal 17 Agustus 1950 oleh tokoh-tokoh seperti DN Aidit, Nyoto, MS Ashar, dan AS Dharta. Organisasi ini memiliki peran penting dalam perkembangan kebudayaan di Indonesia.

Namun, pada tanggal 30 September 1965, Lekra mengalami nasib yang tragis ketika diberhentikan karena dianggap memiliki keterkaitan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Peristiwa ini mengubah takdir Lekra dan juga gedung yang pernah menjadi markasnya.

Dari Rumah Oey Hay Djoen ke Gedung Tri Dharma Widya

Sebelum menjadi markas Lekra, gedung ini merupakan rumah sekaligus kantor milik ketua Lekra, Oey Hay Djoen. Gedung ini terletak di jalan Cidurian Nomor 19, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. Namun, seiring berjalannya waktu, gedung ini mengalami perubahan yang signifikan.

Corongnusantara.com melakukan penelusuran untuk mengetahui kondisi terkini dari bekas markas Lekra ini, yang kini dikenal dengan nama Gedung Tri Dharma Widya. Terlihat bahwa gedung tua ini telah mengalami renovasi dan perubahan yang cukup besar.

Transformasi Menjadi Kantor Hukum dan STIE

Kini, ketika Anda melihat gedung tersebut dari kejauhan, Anda akan melihat plang besar yang bertuliskan “kantor Hukum”. Di sisi lain gedung, terlihat Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) yang diresmikan pada tahun 1993. Ini menandakan bahwa gedung ini telah beralih fungsi dari sekadar markas Lekra menjadi pusat aktivitas yang berbeda.

Kisah Latar Belakang dari Benni Sahetapi

Corongnusantara.com juga melakukan wawancara dengan Benni Sahetapi, Ketua Rukun Warga (RW) setempat yang berusia 75 tahun. Ia memberikan sedikit informasi tentang latar belakang bekas markas Lekra ini. Menurutnya, sebelum Lekra mendiami gedung tersebut, gedung ini pernah ditempati oleh Belanda.

“Saya tahunya gedung Lekra aja, tapi memang sebelumnya ditempati Belanda, karena saya pindah di sini tahun 1965 jadi udah habis atau sesudah G 30 SPKI,” kata Benni Sahetapi kepada Tribunnews.com.

Ia mengungkapkan bahwa tidak ada yang tahu dengan pasti tentang aktivitas yang dilakukan oleh Lekra saat mendiami gedung tersebut. Sejak saat itu, gedung ini hanya ditempati oleh delapan kepala keluarga dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

Perubahan yang Signifikan

Gedung tua bekas markas Lekra, yang pernah ditempati oleh delapan kepala keluarga ABRI, akhirnya diratakan dengan tanah. Kemudian, gedung ini dibeli oleh orang asing yang kemudian mengubahnya menjadi sesuatu yang berbeda.

“Dibeli oleh orang Cina lah yang punya usaha. Memang tadinya rumah tua, lalu diratakan saya juga engga tahu kegiatan Lekranya itu apa,” ungkap Benni Sahetapi.

Kisah yang Hilang Bersama Waktu

Kisah tentang apa yang sebenarnya terjadi di gedung ini selama masa Lekra menghuninya telah hilang bersama waktu. Benni Sahetapi dan warga setempat lainnya tidak memiliki informasi yang cukup untuk menjelaskan secara detail.

“Memang semuanya engga ada yang tahu soal Lekra karena sudah lama, di sini paling lama saya doang dan saya tahu sedikit soal itu dan engga ada yang mau cerita soal itu,” ungkap Benni.

Kokohnya Gedung Tri Dharma Widya

Namun, yang pasti, gedung tua yang dulu menjadi markas Lekra ini kini terlihat kokoh setelah mengalami berbagai renovasi. Meskipun kisah latar belakangnya mungkin telah hilang, gedung ini tetap berdiri sebagai bagian penting dari sejarah Indonesia.

Dengan demikian, Gedung Tri Dharma Widya, yang kini mengabdi dengan fungsinya yang baru, mungkin telah melupakan masa lalu gelapnya, tetapi tetap merupakan saksi bisu dari perjalanan sejarah Indonesia yang penuh warna.