Aras Gereja Kalteng Minta Buku PPKN Kelas VII Ditarik

Redaksi

*TULISAN SALAH DAN MENYESATKAN

 PALANGKA RAYA/Corong Nusantara– Viral di media sosial dan grup-grup WhatsApp tentang buku PPKN kelas VII yang disusun oleh Zaim Uchrowi dan Ruslinawati dan diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Badan Penelitian dan Pengembangan Perbukuan Pusat Kurikulum dan Perbukuan.

Pasalnya, pada Bab IV halaman 79 yang membahas tentang Kebinekaan Indonesia, memuat informasi yang salah dan menyesatkan. Dalam halaman tersebut tertulis tentang penjabaran sejarah singkat dan pengajaran agama Kristen dan Katolik. Tetapi apa yang disajikan dalam buku tersebut tidak tepat.

Di halaman 79 tersebut pada Poin 2 Agama Kristen Protestan tertulis “Tuhannya adalah Allah, Bunda Maria dan Yesus Kristus sebagai tiga yang tunggal atau Trinitas.” Demikian pula pada Poin 3 yang menjelaskan tentang Agama Katolik, “Tuhannya sama dengan Kristen Protestan, yakni Trinitas Allah, Bunda Maria dan Yesus Kristus.”

Sontak hal ini pun menuai berbagai respons dari umat Kristen dan Katolik, serta para pemimpin Aras Gereja khususnya di Kota Palangka Raya.

Pada kesempatan itu, Sekretaris Persekutuan Gereja Pantekosta Indonesia (PGPI) Pdt. Sahat R Sirait  sangat menyayangkan beredarnya buku tersebut dan berharap hal-hal semacam ini tidak terjadi lagi.

“Tentunya kami sebagai pengurus Gereja sangat menyayangkan atas beredarnya buku yang membuat kegelisahan di kalangan Kristen. Jika hal ini dibiarkan dan tidak direvisi segera, maka bisa dianggap ada unsur kesengajaan. Sebab itu, sebagai umat yang beriman tentunya kami tidak ingin dipecah belah oleh pemahaman yang keliru ini. Kami sangat mencintai  moderasi beragama yang telah berjalan dengan baik di bangsa ini. Kami meminta dengan hormat kepada Menteri Pendidikan atau  dinas yang terkait dengan hal ini agar segera menarik buku dari peredaran dan menyampaikan permohonan maaf atas kekeliruan yang terjadi demi meredam  kegelisahan yang sedang terjadi terhadap iman kekristenan. Terima kasih,” ungkapnya kepada Tabengan, Selasa (26/7).

Senada dengan itu, Ketua Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili (PGLII) Kalimantan Tengah yang juga anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalteng Pdt. Maruba Rajagukguk, juga menyesalkan kejadian tersebut.

Dikatakan Maruba, seharusnya buku-buku pelajaran yang diterbitkan dan yang dijadikan menjadi bahan ajar kepada  siswa/pelajar atau mahasiswa khususnya materi yang menyangkut ajaran agama atau kepercayaannya, tidak boleh menyimpang atau bertentangan dengan ajaran agama atau kepercayaan siswa atau pelajajar/mahasiswa yang menganutnya. Karena hal tersebut bisa berakibat fatal dan bisa bersifat melemahkan atau melecehkan para siswa/pelajar/mahasiswa yang memeluk agama/kepercayaan yang dimaksud.

“Untuk itu, seyogianya Mendikbudristek sebelum menetapkan dan menerbitkan buku tersebut menjadi kurikulum  atau bahan ajar, harusnya memanggil dan mendiskusikan atau meminta masukan kepada orang yang berkompeten dalam bidang setiap  agama-agama  yang akan dimasukkan dalam bahan ajar tersebut, sehingga semua materi kuriukulum atau bahan ajar yang akan diterbitkan sudah merupakan hasil dari sumber yang pasti,  bisa dipercaya dan bisa dipertanggungjawabkan karena sudah merupakan hasil bahasan yang representatif dari agama yang dimaksud,” bebernya kepada Tabengan.

Namun demikian, anggota  FKUB Kalteng itu juga bersyukur bahwa persoalan dalam buku PPKN Kelas VII tersebut sudah ditanggapi oleh Kemendikbudristek yang akan segera menarik peredaran buku tersebut dan mengapresiasi Kemendikbudristek yang merespon polemik ini dengan cepat.

“Diimbau bahwa seluruh umat Kristen Kalteng khususnya Palangka Raya untuk menanggapinya dengan mengedepankan Kasih Kristus,” ujarnya.

Ketua PGI Wilayah Kalimantan Tengah, Pdt. Mediorapano S.Th., M.Min meminta agar secepatnya buku tersebut harus ditarik dari peredaran, karena mengandung informasi yang tidak benar dan melenceng dari dogma Kristen secara universal.

“Harus ditarik buku seperti ini dan diperbaiki oleh lembaga agama masing-masing dengan pemahaman yang benar dan tidak keliru seperti  di atas. Tri Tunggal itu Allah Bapa, AnakNya Yesus Kristus dan Roh Kudus.  Bukan bunda Maria,” tuturnya

Sebagai informasi tambahan, kekeliruan penulisan mengenai sejarah dan dogma agama Kristen bukan hanya kali ini saja. Pernah terjadi pada Buku Siswa Sejarah Gereja, Sekolah Menengah Pertama Teologi Kristen.dsn

Also Read

Tags