Bazar UMKM dan Festival Kesenian Budaya Pumpung Hai Dibuka

Redaksi

PALANGKA RAYA– Bazar UMKM, Pameran Produk Inovasi dan Festival Kesenian dan Kompetensi Pencak Silat Dayak se-Kalimantan, resmi dibuka, Kamis (28/7) sore. Rangkaian kegiatan Pumpung Hai dan Festival Dayak 2022 ini sedianya dibuka pada Rabu (27/7) malam, namun tertunda akibat cuaca tidak memungkinkan.

Sejak pukul 16.00 WIB, ratusan masyarakat Kota Cantik mulai memenuhi areal bazar dan pameran. Dari yang sekadar ingin menikmati hiburan rakyat berupa tari-tarian dari sanggar kesenian, lantunan lagu dari artis lokal, hingga ingin mencicipi puluhan stan kuliner yang beraneka ragam jenisnya dan pernak-pernik khas Dayak yang dijual oleh para perajin lokal.

Acara pembukaan yang digelar di kawasan Pameran Jalan Temangung Tilung XIII, dibuka secara langsung oleh Ketua Panitia Pumpung Hai Andreas Junaidy dan Ketua Harian Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Palangka Raya Mambang Tubil. Turut hadir dalam pembukaan tersebut, Bupati Murung Raya Perdie M Yoseph.

Ketua Harian DAD Kota Palangka Raya Mambang Tubil menuturkan, Pumpung Hai dan Festival Dayak 2022 ini adalah untuk pertama kalinya digelar usai digelar terakhir kalinya pada 1894 dalam pertemuan damai di Tumbang Anoi.

“Semangat yang kita bawa dari leluhur kota adalah bagaimana kita sebagai masyarakat adat Dayak bisa bersatu padu membangun kekompakan dalam kehidupan berbudaya Huma Betang dan Belum Bahadat, itulah yang kita junjung tinggi. Itu semua terpatri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini yang ingin kita bangun melalui Pumpung Hai dan Festival Dayak, dalam melestarikan adat dan hukum adat kita,” kata Mambang.

Di sisi lain, lanjutnya, Pumpung Hai dan Festival Dayak 2022 yang dirangkaikan dengan adanya bazar UMKM dan pameran produk inovatif, mampu menjadi momen untuk membangkitkan kembali sektor perekonomian daerah yang sempat terpuruk akibat pandemi Covid-19. Ratusan stan yang diisi oleh berbagai jenis UMKM dan wahana hiburan rakyat, menurutnya akan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat dan daerah agar lebih maju dan berkembang. Baik di tingkat lokal hingga nasional, bahkan internasional.

“Besar harapan kami jika Pumpung Hai dan Festival Dayak beserta dengan bazar UMKM bisa terlaksana rutin setiap tahunnya. Agar kita bisa menjalin terus silaturahmi mempersatukan perjuangan, visi dan misi dalam pelestarian adat istiadat suku Dayak hingga membangkitkan perekonomiam UMKM lokal,” pungkasnya.

Diwarnai Kuliner Khas Betawi

Ada yang menarik ketika melintasi arena pameran dan melewati booth kuliner. Ternyata, kuliner kerak telor yang merupakan kuliner khas Betawi/Jakarta turut mewarnai acara tersebut.

Sebut saja, Kerak Telor Bang Dul. Dia mengaku cukup lama menggeluti usaha kerak telor. Bang Dul sudah berkeliling hampir ke semua wilayah Kalimantan ini, kecuali Kalimantan Barat.

“Masak kerak telor belajar dari teman-teman,” bebernya.

Disebutkan Bang Dul, kerak telor yang dijualnya dibanderol Rp25.000. “Ini lebih murah dari di arena PRJ Jakarta sana,” imbuhnya.

Selain itu, bang Dul juga memiliki “murid” dalam melestarikan kuliner Betawi tersebut. Di seberang boothnya, Patih, seorang pemuda yang juga pelaku usaha kuliner kerak telor berharap melalui event seperti ini, kuliner dari berbagai daerah Nusantara dapat diperkenalkan.

Dalam sehari, baik Bang Dul dan Patih menghabiskan sedikitnya 5 tabak telur itik, dan diakuinya hampir tidak pernah tersisa. Kalaupun tersisa hanya, 2 atau 3 telur saja. rgb/dsn

Also Read

Tags