COVID-19 KALTENG MENINGKAT-IDAI: Anak Batuk Pilek Dilarang ke Sekolah 

Redaksi

PALANGKA RAYA/Corong Nusantara– Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Kalimantan Tengah (Kalteng) menyarankan pengetatan kembali protokol kesehatan di sekolah, setelah kasus konfirmasi positif Covid-19 di Provinsi Kalteng perlahan terus mengalami peningkatan.

Ketua IDAI Cabang Kalteng dr Ni Made Yuliari Abdiwati Sp.A menyampaikan, tidak hanya orang dewasa tetapi anak-anak juga ada yang terkonfirmasi positif Covid-19. Sejumlah pasien anak yang ke tempat praktiknya datang dengan gejala mirip Covid-19 seperti demam, batuk dan pilek. Hasil hasil skrining ada anggota keluarganya yang juga memiliki gejala sama.

“Jangankan di rumah sakit, di praktik juga ada. Saya sudah mendapatkan pasien, kok batuk-batuk begitu lama, saya suruh skrining, dalam keluarga anak itu juga ada yang sakit tenggorokan dan saya suruh skrining dan ada yang positif. Saya rujuk ke rumah sakit untuk dapatkan pengobatan dengan baik,” kata Made, Rabu (27/7).

Menurut Made, sekarang ini pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 tidak harus semuanya dimasukkan ke rumah sakit. Bagi yang memiliki gejala sedang sampai berat serta komorbid itu masuk rumah sakit, sedangkan yang positif dengan gejala ringan bisa isolasi mandiri di rumah.

Dokter spesialis anak RSUD Doris Sylvanus ini menambahkan, kondisi ini dapat mengancam kesehatan terutama anak-anak sekolah yang belum menerima vaksin. Sebenarnya memang anak-anak perlu sekolah tatap muka, namun dengan meningkatnya kasus ini, ia mengimbau sekolah juga harus lebih waspada.

Orang tua juga harus waspada. Salah satunya untuk orang tua kalau ada anaknya yang batuk pilek, jangan dipaksakan ke sekolah. Berilah izin dan rawatlah di rumah, makan makanan yang gizi seimbang.

“Yang kedua, saya lihat pembelajaran tatap muka ini ada sekolah yang sampai sore. Sebaiknya jamnya dikurangi dan tidak makan di sekolah karena berisiko membuka masker. Apalagi anak-anak yang Sekolah Dasar kelas III ke bawah dan Taman Kanak-Kanak itu kan belum taat banget untuk memakai masker,” imbuh Made.

Melihat kondisi saat ini, sekolah perlu evaluasi lagi jam belajar tatap muka. Sekolah cukup  sampai pukul 11.30 WIB-12.00 WIB. Jangan sekolah sampai sore ada ekstrakurikuler lagi, sehingga datang lagi ke sekolah karena sudah sekolah sampai siang anak kecapean, kemudian maskernya dibuka sehingga cenderung terjadi penularan.

Selain itu, Made menyarankan sekolah harus memfasilitasi anak harus prokes dengan benar. Walaupun di TK, jangan membuka masker, menyiapkan tempat untuk cuci tangan, tempat duduk anak ada jarak. Apabila terjadi peningkatan kasus terus, mungkin sekolahnya bisa memberlakukan kembali sif-sifan. Ada yang sekolah pagi, ada yang sore.

“Kalau anaknya batuk, pilek dan demam, pihak sekolah juga sebaiknya memfasilitasi untuk skrining. Kalau ada anak yang positif maka sekolah harus diliburkan. Anaknya dilengkapi dengan vaksinasi lengkap, karena kalau kena Covid gejalanya menjadi ringan,” pungkas Made. yml

Also Read

Tags