Pengusaha Travel Keluhkan Jalan Palangka-Kurun

Redaksi

PALANGKA RAYA/Corong Nusantara– Jalan Palangka Raya menuju Kuala Kurun kini tidak senyaman dulu lagi. Jarak tempuhnya juga sudah berubah, tidak secepat dulu. Tingginya mobilitas truk perusahaan besar swasta (PBS) sektor sawit, batu bara dan kehutanan, hingga kerusakan jalan maupun jembatan akibat mobilitas tersebut, menjadi faktor yang mengubah semua “kenyamanan” pengendara untuk menuju Kuala Kurun atau sebaliknya.

Terkait itu, sejumlah pengusaha travel dan para pengendara yang kerap bolak-balik melewati ruas tersebut, terus berkeluh-kesah soal kesulitan di lapangan.

Seorang pengusaha travel, Haga menuturkan, masalah yang dihadapi tidak hanya memperlambat jarak tempuh dan waktu di jalan, namun juga hambatan bagi mereka yang mendistribusikan berbagai pasokan, baik sembako, BBM, gas dan sebagainya.

“Sudah tidak senyaman dulu lagi. Kami hanya berharap agar bisa menikmati lagi ruas jalan itu seperti dulu, tanpa hambatan akibat truk PBS atau jalan rusak,” ujarnya kepada Tabengan, Kamis (7/7).

Dirinya menceritakan, saat ini waktu jarak tempuh yang mesti dilalui berkisar 5-6 jam, bahkan bisa melebihi itu. Dia mengakui pernah berkendara hingga 8 jam lebih, akibat terjebak antrean truk PBS yang rusak atau amblas di tengah jalan.

Haga mencontohkan, seperti beberapa hari lalu, di kawasan Desa Tanjung Karitak, Kecamatan Sepang, Kabupaten Gunung Mas terjadi antrean yang sangat panjang, akibat hal yang sama. Kondisi ini terjadi berjam-jam dan membuat para pengusaha travel banyak kehilangan waktu di jalan tersebut.

Dibandingkan saat ini, ucapnya, dulu waktu jarak tempuh yang mesti dilewati hanya berkisar antara 2,5-3 jam untuk sampai ke tujuan.

“Banyak lubang dan jalan yang rusak di sejumlah titik, dengan kedalaman yang lumayan. Ini sangat mengganggu kami ketika berkendara,” ujarnya. Belum lagi masalah antre yang tidak hanya terjadi sekali, namun kadang sering terjadi ketika pihaknya bekerja di lapangan. Dari pantauannya di lapangan, tidak hanya konvoi truk-truk PBS biasa yang melintas, namun juga truk dengan ban 10 bermuatan, yang hilir mudik di ruas Jalan Palangka-Kurun.

Terkait itu, harapannya agar truk-truk PBS itu bisa memiliki jalan khusus, sehingga tidak mengganggu masyarakat dalam berkendara. Selain itu, pemerintah atau aparat terkait, mestinya peduli dengan persoalan mobilitas truk angkutan yang tinggi, bahkan dengan muatan berlebih, sementara tidak ada jembatan timbang sebagai filter bagi persoalan terkait.

Hadi Susilo, pengendara yang kerap mengantarkan pasokan bahan pokok dan lainnya ke Kuala Kurun, mengaku kesulitan dan kerap terlambat akibat kondisi di ruas jalan tersebut rusak.

“Sulit mas, sudah banyak truk perusahaan yang konvoi, lalu kadang macet gara-gara ada truk yang rusak atau amblas, menghalang jalan,” keluhnya.

Dia menceritakan, apabila persoalan ini selalu berlarut-larut, pihaknya khawatir berbagai pasokan bisa terhambat, bahkan mengalami keterlambatan akibat masalah tingginya mobilitas truk PBS tersebut.

Selain itu, mereka juga khawatir dengan faktor keselamatan di jalan, rawan kecelakaan lalu lintas (lakalantas). Banyak kendaraan truk berbadan besar bermuatan, dengan roda melebihi standar, melewati ruas itu.

“Sekarang truk sebesar itu saja dengan mudahnya bisa lewat. Sementara kami yang ada keperluan malah kesulitan. Kami berharap ada keadilan bagi kami pengendara, sekaligus masyarakat pengguna jalan. Bagaimana hak kami kalau kondisinya begini,” ucapnya penuh dengan kemarahan.

Dia berharap pemerintah benar-benar memerhatikan persoalan yang berlarut-larut ini, atau benar-benar merealisasikan adanya jalan khusus bagi angkutan PBS. drn

Also Read

Tags