Pumpung Hai Festival Dayak 2022 Berakhir

Redaksi

*Dandan: Kami Berswadaya, Bantuan dari Pemprov Nihil

PALANGKA RAYA– Pelaksanaan Pumpung Hai Festival Dayak 2022 resmi berakhir dan ditutup, Minggu (31/7) sore. Acara penutupan di lokasi Pameran Pembangunan Temanggung Tilung Kota Palangka Raya itu diawali tari-tarian etnik, dan dihadiri sejumlah pendukung serta yang ikut berpartisipasi dalam menyukseskan kegiatan.

Pada kesempatan itu, dilaksanakan penyerahan hadiah kepada sejumlah pemenang kompetisi silat tradisional Dayak hingga Lomba Festival 1.000 Dohong dan lainnya. Diserahkan juga sertifikat penghargaan bagi pihak-pihak pendukung, yang ikut andil dalam menyukseskan Pumpung Hai 2022.

Di antaranya dari Korem 102/Panju Panjung, jajaran pihak ketiga hingga Harian Umum (HU) Tabengan yang diwakili oleh Pemimpin Redaksi (Pimred) Tabengan Victor Giroth. Penyerahan dilakukan langsung oleh Ketua Panitia Pumpung Hai Festival Dayak 2022 Andreas Djunaedy.

Sekretaris Panitia Pumpung Hai Dandan Ardi menuturkan, pelaksanaan kegiatan digelar sejak 27-31 Juli 2022. Pihaknya menyampaikan ucapan terima kasih kepada masyarakat atas dukungan dan doa sehingga kegiatan berjalan sukses.

Tentunya juga tidak luput dari pihak-pihak terkait seperti MADN, Dewan Adat Dayak (DAD) Provinsi, Korem 102/Panju Panjung, HU Tabengan, beberapa Bupati dan Ketua DAD Kabupaten seperti Murung Raya, Gunung Mas, Seruyan dan Pulang Pisau serta sejumlah pihak lain.

“Kami dan kita bersyukur kegiatan ini berjalan lancar serta sukses, karena kami benar-benar berswadaya serta melalui support dari pihak-pihak yang peduli. Jujur saja, dari pemerintah provinsi dan lainnya tidak ada alias nol,” ungkap Dandan, seraya berharap kegiatan Pumpung Hai seperti ini bisa dilaksanakan setiap tahun.

Sementara itu, Perwakilan DAD Kalteng Ducun H Umar, menutup kegiatan tersebut secara resmi dan simbolis.

Sebelumnya, Ketua Panitia Kegiatan Pumpung Hai 2022 Andreas Djunaedy menuturkan, kegiatani ni sebagai upaya dalam mempersatukan kesepakatan dan visi serta misi Dayak se-Kalimantan. Dia menegaskan, pelaksanaan ini juga tidak ada unsur politik atau apa pun yang berkaitan dengan kepentingan, dan murni dalam mempersatukan kapakat (kesepakatan/kebersamaan) bersama.

“Ini murni kapakat kita bersama, dari berbagai macam suku dan budaya tapi tetap disebut Dayak, karena memang Dayak itu banyak ragamnya budaya dan ada istiadatnya juga dan di sini dinaungi dalam satu wadah yaitu Dayak,” ungkapnya.

Andreas menceritakan, Kalteng sendiri pernah mengumpulkan damang dan tokoh adat se-Kalimantan di Rapat Tumbang Anoi pada masa silam, kenapa tidak bagi Kalteng sendiri untuk mengulang sejarah.

Pria yang dikenal vokal dalam membela adat serta budaya Kalteng itu mengharapkan, melalui kegiatan ini masyarakat bisa lebih mencintai budayanya sendiri dan mengetahui secara detail berbagai hal mengenai Dayak, layaknya seperti Dohong dan lainnya.

Intinya adalah juga memberikan edukasi bagi para generasi muda, yang belum mengetahui serta menanamkan spirit serta bangga menjadi masyarakat Dayak. drn

Also Read

Tags