LBH Ansor Mengajukan Permohonan Perlindungan Ke LPSK Terhadap David Dan 3 Saksi

Redaksi

LBH Ansor Mengajukan Permohonan Perlindungan Ke LPSK Terhadap David Dan 3 Saksi

Corong Nusantara – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor DKI Jakarta mengajukan permohonan perlindungan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk Cristalino David Ozora (17) korban penganiayaan dari Mario Dandy Satriyo (20).

Permohonan perlindungan itu bertujuan agar David mendapat perlindungan dari negara.

Demikian disampaikan Ketua LPSK Hasto Atmojo, dikutip dari Wartakotalive.com.

Permohonan tersebut diajukan pada Jumat (24/2/2023) lalu.

Hasto mengatakan orang tua David belum mendatangi LPSK langsung karena masih fokus dengan pemulihan David di ICU RS Mayapada, Kuningan, Jakarta Selatan.

“LPSK belum bertemu dengan orang tua korban, mengingat keluarga masih fokus pada penyembuhan anak korban yang berupaya bangkit dari kondisi koma pasca-aksi kekerasan fisik yang dideritanya,” kata Hasto, Sabtu (25/2/2023).

Hasto menjelaskan, pihak David menginginkan penganiayaan tersebut diusut tuntas dan para tersangka dapat dihadirkan ke muka peradilan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Selain itu, kata Hasto, pihak keluarga juga berencana mengajukan permohonan perlindungan untuk pendapingan, bantuan medis, dan fasilitas restitusi.

Beberapa Saksi Juga Dimohonkan Dapat Perlindungan LPSK

Selain David, sejumlah saksi juga dimohonkan mendapat perlindungan dari LPSK.

Total terdapat tiga saksi yang dimohonkan medapat perlindungan.

“Tiga saksi dari pihak keluarga teman korban segera melengkapi permohonan Karena ada ketakutan dari saksi mengingat keluarga pelaku merupakan pejabat,” ujar Hasto.

Baca Juga :  Resmi Jadi Terdakwa, AG Kekasih Mario Dandy Terancam 7 Tahun Penjara

Kronologi Kasus

Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Ade Ary Syam Indradi mengatakan peristiwa penganiayaan anak pejabat pajak itu terjadi di Komplek Grand Permata, Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Senin (20/2/2023) sekitar pukul 18.00 WIB.

Kejadian penganiayaan tersebut bermula saat AGH mengadu kepada pacarnya, Mario bahwa David melakukan perbuatan tidak menyenangkan.

AGH disebut sebagai mantan kekasih David.

“Beberapa hari sebelum kejadian tersangka mencoba mengonfirmasi hal tersebut kepada korban. Kemudian korban tidak menjawab dan tidak bisa bertemu,” kata Ade saat merilis kasus ini, Rabu (22/2/2023).

Setelah itu, Mario kemudian datang ke rumah teman korban. Tersangka Mario datang bersama AGH dan seorang lainnya berinisial S menggunakan mobil Jeep Rubicon berwarna hitam.

Setibanya di depan rumah R, AGH menghubungi David dan memintanya untuk keluar.

Tak lama setelah itu, korban pun keluar menemui Mario dan AGH. Pada momen tersebut, tersangka mencoba mengonfirmasi soal perbuatan tidak menyenangkan yang diadukan AGH.

Sebelumnya sempat terjadi perdebatan antara Mario dan David, kemudian akhirnya terjadilah penganiayaan terhadap David secara brutal di belakang mobil Mario.

“Pelaku menendang kaki korban sehingga korban terjatuh, kemudian pelaku memukul korban berkali-kali menggunakan tangan kanan pelaku. Kemudian saat korban sudah terjatuh, pelaku menendang kepala korban. Kemudian menendang perut korban,” ungkap Ade Ary.

Baca Juga :  Taruna Akmil Diduga Aniaya Mahasiswa, Keluarga Korban Tolak Berdamai Meski Dibayar Rp 1 Triliun

Tak lama kemudian, orang tua R mendekat ke tempat kejadian perkara (TKP) dan berupaya menolong David.

Orang tua R juga memanggil sekuriti komplek, yang selanjutnya menghubungi Polsek Pesanggrahan.

“Setelah mendapat laporan dari petugas sekuriti di Grand Permata Cluster Boulevard ini, petugas kepolisian dari Polsek Pesanggrahan datang dan langsung mengamankan orang-orang yang ada di TKP, yaitu saudari A, kemudian pelaku MDS (Mario Dandy Satriyo) dan juga saksi S,” terang Kapolres.

Sementara itu, David langsung ditolong dan dibawa ke Rumah Sakit (RS) Medika Permata Hijau.

Atas kasus tersebut, Mario dijerat Pasal 76 C juncto Pasal 80 undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman pidana maksimal 5 tahun penjara.

Selain itu, Mario juga disangkakan Pasal 351 ayat 2 tentang penganiayaan berat dengan ancaman pidana maksimal lima tahun.

Also Read